Danar Seorang yang Senang dan Giat dalam Belajar ❤ Terutama di Dunia Pendidikan ❤ Yang Mempunyai Hobi Membaca dan Suka Berbagi ❤.

Sunan Kudus

2 min read

Sunan Kudus adalah ulama keenam dari Walisongo. Menjadi tokoh yang cukup disegani oleh masyarakat membuat namanya seolah tak pernah terlupakan hingga sekarang.

Ia merupakan salah satu orang yang sangat berjasa dalam menyampaikan ilmu agama Islam.

Sejumlah peninggalannya masih dilestarikan dan kisah-kisah semasa hidupnya masih banyak dibahas. Berikut adalah info lengkapnya.

Sejarah Sunan Kudus

Sejarah-Sunan-Kudus

Kisah Sunan Kudus dimulai dari wafatnya sang ayah dalam pertempuran melawan Majapahit.

Sunan Kudus kemudian menggantikan posisi sang ayah menjadi senopati Demak sambil terus menyampaikan dakwah Islam dari satu tempat ke tempat lain.

Dikabarkan bahwa Sunan Kudus pernah mengembara hingga Makkah, dan akhirnya kembali ke tanah Jawa dan menetap di Kudus.

Biografi Sunan Kudus

Biografi-Sunan-Kudus

Nama asli                         : Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan

Gelar                                : Waliyyul Ilmi

Tempat, tanggal lahir       : Al-Quds, Palestina, 9 September 1400 M

Tempat, tahun wafat        : Kudus, 1550 M

Nama ayah                      : Raden Usman Haji / Sunan Ngudung

Nama ibu                         : Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang

Nama kakek                     : Sayyid Fadhal Ali Murtazha / Sunan Bonang

Nama guru                       : Sunan Kalijaga

Nama saudara                 : Syarifah Dewi Sujinah

Pekerjaan                         : Penasehat sultan, panglima perang, imam besar masjid Demak & masjid Kudus, qadhi, mufti, mursyid tarekat, ketua pasar islam Walisongo, naqib nasab keturunan azmatkhan, ketua baitulmal Walisongo, penanggung jawab pencetak dinar dirham Islam.

Simak Juga: Sunan Giri

Makam Sunan Kudus

Makam-Sunan-Kudus

Sunan Kudus wafat dalam posisi sujud saat menjadi imam solat subuh di Masjid Menara Kudus, yang kemudian dimakamkan di area masjid tersebut.

Makam ini kemudian menjadi objek wisata Islami yang selalu ramai didatangi para peziarah, terutama setiap Kamis malam.

Makamnya berada di pendopo kecil yang hampir semua bahannya terbuat dari kayu.

Simak Juga: Sunan Drajat

Silsilah Sunan Kudus

Silsilah-Sunan-Kudus

Ayah dan ibu dari Sunan Kudus adalah orang Palestina asli dan masih memiliki hubungan keluarga dengan Sunan Ampel.

Dari dua orang istri, Sunan Kudus memperoleh sepuluh anak yang semuanya adalah tokoh penting di Pulau Jawa, yang bernama:

  1. Amir Hasan
  2. Nyai Ageng Pambayun
  3. Panembahan Kudus
  4. Amir Hamzah
  5. Ratu Pajaka
  6. Ratu Probodinalar
  7. Panembahan Makaos Honggokusumo
  8. Panembahan Jaka
  9. Panembahan Kadhi
  10. Panembahan Karimun

Cucu dan cicitnya juga merupakan ulama tersohor di Tanah Air. Tiga diantaranya adalah Syekh Kholil Bangkalan Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini, Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini, dan Syekh Bahruddin Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini.

Peninggalan Sunan Kudus

Peninggalan-Sunan-Kudus

1. Masjid Menara Kudus

Nama resmi masjid ini adalah Al Manar atau Al Aqsa Manarat Qudus. Letaknya berada di Jl. Menara, Pejaten, Kauman, Kudus, Jawa Tengah. Desain masjid ini adalah perpaduan Islam, China, dan Hindu.

Meskipun sudah ada sejak tahun 1549 M, masjid ini masih tampak kokoh dan baik karena selalu dirawat dan diperhatikan.

2. Keris dan Tombak

Kedua benda pusaka ini disimpan di Masjid Menara Kudus dan dimandikan setiap tahun sekali, tepatnya setiap Idul Adha. Ritual memandikan keris dan tombak ini biasa dilakukan oleh seorang ahli pusaka dari pihak Yayasan Masjid.

Nama ritualnya sendiri adalah “menjamas”. Diperkirakan bahwa keris yang bernama Chintaka/Cintoko ini sudah berusia 600 tahun.

Ritual biasanya dilakukan sejak pagi dengan diawali pembacaan doa iftitah, tahlil, dan ayat Al-Quran bersama.

Dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Kudus, lalu pengambilan keris dari dalam peti di area makam.

Kemudian, keris dimandikan dengan air rendaman merang ketan hitam, dibersihkan dengan air jeruk nipis, lalu dijemur di atas sekam ketan hitam.

3. Asmaradana

Asmaradana adalah tembang (lagu Jawa kuno) yang berisi tentang cinta (asmara).

Dengan perantara tembang ini, Sunan Kudus menyebarkan Islam lewat lirik lagu, yang membuat masyarakat lebih mudah memahaminya.

Simak Juga: Sunan Gresik

Metode Dakwah Sunan Kudus

Metode-Dakwah-Sunan-Kudus

Sunan Kudus menggunakan metode dakwah yang halus dan sangat toleran terhadap agama/kepercayaan/adat istiadat lain, yang ia pelajari dari gurunya, sang ayah, dan beberapa ulama terkenal lain, seperti Ki Ageng Ngerang, Kyai Telingsing, dan Sunan Ampel.

Adapun metode dakwah yang digunakan adalah:

1. Bergaul dengan Masyarakat Hindu Budha

Pemeluk agama Hindu dikenal sangat setia pada agama, sehingga cukup sulit untuk membuatnya mempelajari Islam.

Karena itu, Sunan Kalijaga melakukan pendekatan dengan cara berbaur dalam kehidupan sehari-hari.

2. Membuat Masjid

Untuk menarik perhatian, Sunan Kalijaga juga membuat masjid yang bentuk bangunan dan ukiran-ukiran yang serupa dengan candi Hindu.

Terdapat juga pancuran wudhu berjumlah delapan titik, dengan setiap titik diberi sebuah arca yang mirip dengan milik masyarakat Budha, yang bernama arca Kebo Gumarang.

Bangunan masjid seperti ini tentu saja membangkitkan rasa penasaran umat Hindu Budha, yang kemudian terpengaruh untuk masuk ke dalam masjid dan secara tidak langsung akan ikut mendengarkan dakwah sunan di dalam masjid.

3. Mengubah Ritual

Di kalangan Hindu Budha pada zaman dulu, ada sebuah ritual sakral yang disebut dengan mitoni, yaitu bentuk syukur atas kelahiran seorang bayi. Jika dalam Islam, hampir mirip dengan dengan aqiqah.

Namun bagi pemeluk agama Hindu Budha, persembahannya diberikan kepada arca atau patung.

Sunan Kalijaga kemudian merubah ritual ini agar lebih sesuai dengan ajaran Islam tapi tidak menghilangkan kebiasaan Hindu Budha yang selama ini mereka yakini.

Perlahan-lahan, penganut Hindu Budha terbiasa dengan hal ini dan semakin banyak mendengarkan dakwah Sunan, hingga akhirnya tertarik masuk Islam.

Sunan Kudus adalah tokoh Islam yang terkenal akan ilmunya. Hal ini terbukti dari cara yang ia gunakan untuk mengajak masyarakat memeluk Islam.

Ia tidak menggunakan kekerasan/paksaan, juga tidak berusaha untuk terus-menerus menjejalkan Islam. Ia justru mengikuti alur Hindu Budha untuk membuat orang-orang tertarik dan akhirnya mendengarkan dakwahnya sedikit demi sedikit.


Baca juga artikel dari: Farmbos


Danar Seorang yang Senang dan Giat dalam Belajar ❤ Terutama di Dunia Pendidikan ❤ Yang Mempunyai Hobi Membaca dan Suka Berbagi ❤.

Sejarah Pancasila

Danar
2 min read

Kerajaan Mataram Kuno

Danar
4 min read

Kerajaan Demak

Danar
3 min read

Kerajaan Kutai

Danar
3 min read

Sejarah Bahasa Indonesia

Danar
2 min read

Sunan Gresik

Danar
3 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *