Riski M.pd Seorang lulusan magister pendidikan dari salah satu universitas negeri terbaik di yogyakarta, yang gemar berbagi melalui tulisannya, baik tentang pendidikan, ekonomi maupun teknologi.

Majas Paradoks

3 min read

Majas atau gaya bahasa adalah suatu cara dalam khazanah Bahasa Indonesia yang digunakan untuk memperkuat tujuan atau maksud dalam suatu karya sastra ataupun percakapan sehari-hari.

Ada banyak jenis majas yang ada di Indonesia baik itu sudah dikenal luas namanya atau sekedar penerapannya saja.

Majas paradoks adalah salah satu gaya majas dalam sastra Indonesia yang banyak dikenal. Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai majas yang satu ini, silahkan simak ulasan lengkapnya dari Cryptowi berikut ini.

Pengertian Majas Paradoks

Pengertian-Majas-Paradoks

Istilah paradoks dalam sistem ketata bahasaan khazanah Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani kuno yang memiliki arti “ungkapan atau pernyataan yang memiliki makna bertentangan”.

Oleh sebab itu majas berjenis paradoks tergolong ke dalam jenis majas pertentangan yang bertujuan untuk menyampaikan beberapa hal yang tampak saling bertentangan padahal tidak.

Dalam penerapan majas berjenis paradoks, akan disampaikan beberapa hal yang secara sekilas akan terlihat berbeda dan saling bertentangan, padahal kedua hal tersebut memang sesuatu yang sama–sama benar.

Gaya bahasa paradoks bisa Anda temukan pada media masa, tulisan karya sastra seperti novel dan puisi. Andapun bisa menemukan contoh penerapannya pada penulisan di koran, tabloid dan majalah.

Ciri-Ciri Majas Paradoks

Ciri-Ciri-Majas-Paradoks

Tanpa Anda sadari penggunaan gaya bahasa paradoks sudah sangat lumrah pada penulisan formal dan non formal di media massa.

Ada dua setidaknya jenis gaya bahasa paradoks yang dikenal yakni:

✔   Membandingkan dua buah konteks yang berbeda namun mengarah kepada suatu kebenaran. Jenis gaya bahasa paradoks ini akan memaparkan dua buah kata yang memiliki makna berkebalikan namun pada akhirnya pertentangan ini justru menciptakan kalimat yang sesuai dan harmonis.

Sebagai contoh adalah kalimat “Adik perempuanku selalu merasa kesepian walaupun ia berada di tengah keramaian kota”.

Kalimat ini memiliki dua kata bertentangan yakni sepi dan ramai. Namun kalimat ini membentuk suatu makna yang sama dan harmonis.


✔   Membandingkan dua konteks yang memiliki makna berbeda dalam sebuah kalimat. Jenis gaya bahasa paradoks ini cukup sederhana yakni memaparkan dua buah komponen yang saling bertentangan di dalam sebuah kalimat yang sama.

Sebagai gambaran yang lebih mudah mengenai jenis gaya bahasa paradoks bisa dilihat dari contoh berikut: “Cuaca hari ini memang sangat panas namun jaga agar pikiranmu terus dingin.”

Pada kalimat ini terdapat dua buah kata yang saling bertentangan yaitu dingin dan panas. Kalimat ini tidak memenuhi persyaratan karakteristik sebagai kalimat paralel.


Simak Juga: Majas Personifikasi


Tujuan Penggunaan Majas Paradoks

Tujuan-Penggunaan-Majas-Paradoks

Penggunaan gaya bahasa paradoks tentu bukan tanpa sebab.

Ada banyak tujuan dari penggunaan gaya bahasa paradoks dalam suatu karya tulis dan sastra, yaitu seperti berikut:

✔   Sebagai media untuk memberikan teguran kepada lawan bicara agar tidak menimbulkan kesan tidak sopan atau terlalu lancang dalam bicara.

✔   Sebagai media untuk menyampaikan argument atau pendapat seseorang mengenai hal yang ia senangi

✔   Sebagai cara untuk meningkatkan intensitas sebuah perasaan apakah itu sedih, bahagia, tekanan mental, kemarahan dan sebagainya dari orang yang merasakan kepada orang lain yang menjadi objek pembaca atau pendengarnya

✔   Menyampaikan rasa kebahagiaan yang bersifat imajinatif kepada orang lainnya

✔   Agar makna yang dimaksud dalam suatu kalimat atau ucapan lebih mudah dipahami hanya dengan cara yang sederhana.


Simak Juga: Majas Metonimia


Contoh Majas Paradoks

Contoh-Majas-Paradoks

Agar Anda lebih mudah dalam memahami penerapan gaya bahasa paradoks, di bawah ini adalah beberapa contoh penggunaannya yang biasa diterapkan baik dalam karya sastra hingga tulisan biasa.

»   Adinda adalah wanita yang memiliki paras sangat menawan, sayangnya wanita cantik ini memiliki hati yang sangat rusak dan buruk sekali.


»  Rumah tetangga saya di perumahan yang lama memiliki penampilan yang sangat cantik dan bersih dari luar, sayangnya saat Kamu masuk ke dalam Kamu akan disuguhkan dengan bau dan kotoran yang berserakan.


»  Umur kakek dari ayahku memang sudah sangat tua, namun bisa dilihat semangatnya yang sangat membara tak ubahnya seperti anak muda.


»  Aku kagum dengan teman sekolahku yang bernama Kasino, Kasino adalah anak yang miskin secara harta, namun ia adalah sosok yang sangat kaya hatinya.


»  Apa yang ada di pikiran para pejabat itu? Bisa – bisanya mereka terus memperkaya diri dan keluarga sementara rakyat di sekitarnya semakin menjerit dalam kemiskinan.


»  Teman sebangkuku di SMA memang cukup malas ketika pelajaran kesenian, namun ia tidak bisa dikalahkan ketika pelajaran eksak seperti matematika.


»  Teknologi seperti ponsel memang semakin pintar, sayangnya nilai moral dan kemampuan berpikir jernih masyarakat justru semakin bobrok.


»  Jangan pernah menilai sesuatu hanya dari tampilannya. Pria di sebelahku ini memang terlihat kasar dan kejam, namun sebenarnya ia memiliki hati yang sangat baik dan lembut.


»  Kendaraan bus besar yang digunakan untuk wisata dari Yogyakarta ke Bali mengalami kecelakaan hebat namun untungnya seluruh penumpang dan supir bus selamat.


»  Saudara perempuanku Herlina sangat pendiam dan pemalu apabila berbicara dengan orang-orang namun ia akan berubah menjadi sangat tegas dalam berbicara saat tampil di muka umum.


»  Cuaca di daerah Lampung hari ini sangat panas sementara cuaca di daerah Bogor justru hujan deras dan sangat dingin.


»  Meski jumlah orang kaya di Indonesia terus naik dari tahun ke tahun, namun jumlah warga miskin juga menunjukkan tren yang tidak sedikit.


Simak Juga: Majas Anafora


Pemanfaatan majas paradoks dalam khazanah sastra Bahasa Indonesia sering ditujukan sebagai bentuk ekspresi kebebasan berpendapat terhadap suatu hal yang tidak disenangi.

Seringkali gaya bahasa paradoks ini dimanfaatkan oleh orang sebagai metode halus untuk memberi teguran kepada suatu pihak yang dirasa keliru. Semoga dengan adanya ulasan diatas Anda bisa memahaminya dengan mudah.


Riski M.pd Seorang lulusan magister pendidikan dari salah satu universitas negeri terbaik di yogyakarta, yang gemar berbagi melalui tulisannya, baik tentang pendidikan, ekonomi maupun teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *